Selasa, 07 Oktober 2014

Pengumpulan tawa kalian



Dalam setiap langkah perjalanan hidup, aku berusaha untuk menyayangi siapapun mereka yang kutemui. Tak pernah aku membedakan perhatian yang kuberi untuk kaum adam ataupun keturunan sang hawa. Aku menganggap mereka adalah bagian besar dalam sejarah perjalanan-perjalanan panjangku. Mereka adalah keluarga berbeda darah yang entah saat ini ataupun nanti pasti akan ku nikmati kasihnya, perhatiannya.. Yang kuharap takkan pernah ada kata akhir untuk bagian ini. Tanpa sakit, tanpa luka, tanpa kecewa. Yang harapku hanya ingin untuk terus menyumbang dan mengumpulkan tawa-tawa riang agar selalu tercantum dalam hati dan senyuman. Jikapun harus ada setetes air mata, aku hanya akan membiarkan air mata bahagia yang mengalir di antara bola mata indah kalian ...

Teruntukmu Nurani,

Demi Dzat yang maha membolak balikan hati,
tak sedikitpun terlintas kau yang akan disisi,
menemani menyusuri ribuan mill jalan di depan nanti,
akankah kepadamu benar kan ku serahkan raga dan hati?

Kau nurani, cobalah tanyakan lagi
bisikan rindu yang memburu memangkah kan kemari?
Kau nurani, cobalah fikirkan lagi
selagi sang mimpi masih mungkin untuk kau hampiri..

Rinjani,,, kita tak sedang bermimpikah kawan? #Perjalanan dari Surabaya



Hii para petualang!
Hii Para Pemberani! dan Hii para Penjemput impian!
Kenalan duLu yes, My name is Rosa, Rosalina Gneyno or U can call me Oca. Dan atau yg Lebih beken dipanggil Onyeng, Miss Beransel Hihihii…. aku tinggal dan berhabitat di Kediri alias The Tofu City, Jawa Timur. :p

Kali ini aku mau bercerita panjang bin lebar tentang perjalanan yg baru saja aku lakukan dengan ketiga orang gila yg menemaniku. Mereka bisa dibilang teman, saudara, sahabat, or whatever lah. ^_^ Mereka adalah Djose Purnomo, Om Moralez Pilirobo, mereka berdua dari Surabaya, The Hero City. Dan om Davinci Oktaviant dari Pasuruan. :D
Kami berempat telah bersepakat untuk berkelana ke Pulau seberang… Pulo Cabe katanya… haha padahal kalu dipikir – pikir bentuk pulau itupun tak ada mirip – miripnya dengan bentuk, “cabe dehh…!!” #sambiltepokjidat -_-‘
Oke lah, singkat cerita kami berempat ini ikut dalam satu komunitas berlatar belakang Gunung yaitu I.P.G Jatim --> Ikatan Pendaki Gunung Jawa Timur yang berpusat di Surabaya. Tapi entahlah kenapa  bisa teracuni dan “kecemplung” di dalamnya. Padahal aku ini bukan pendaki, aku hanya petualang. Hahaha #lebihkeren khann?? :p
Senin,  28 Juli 2014.
Tepat sebelum Adzan maghrib berkumandang di hari pertama Lebaran 1435 Hijriyah ini barang – barang yang akan kubawa berkelana selesai ku Packing. Makhlum, sekitar pukul empat sorean tadi  aku baru pulang dari acara anjangsana ke tempat nenek dan sebagian saudara –saudaraku. Hingga ternyata molor tak bisa ku hindari untuk segera berangkat ke Surabaya. 
“ Tunggu setelah Maghrib sekalian, nduk. “ saran ayah.
Ku pikir ada baiknya jika  sholat maghrib terlebih dahulu, dan menunda beberapa menit keberangkatanku ke Surabaya, lagipula aku takut kena adzab kalau memaksakan diri untuk berangkat saat maghrib masih berjalan.
Tepat setelah Maghrib itu kudirikan, akhirnya aku pamit pada ayah dan adikku. Agak sesak rupanya ayah melepas kepergianku yang ku rasa amat jauh ini. Maafkan anakmu yang nakal ini yah.. 
Berteman si Evo, kuda besi yang 2 tahun ini telah setia menemani hari-hariku, dan si orange, keril yg belum lama ini menjadi sahabat baru dalam perjalanan – perjalanan ku menembus tanjakan dan dinginnya dataran tinggi dari negeri di balik awan.  Ahh rasanya sudah tidak sabar ingin segera meluncur berganti aliran waktu dan garis bujur…… 
Sekitar pukul 20.30 aku sampai di The Hero City, dan segera ku hubungi 3 orang yang telah tersebut diatas. Xixixixi
Rupanya Si Poer, masih berada di Pulau halamannya, Madura.. hingga akhirnya aku ditemani oleh temanku anak surabaya, dan diajaknya ke Kebun bibit untuk menunggu si Pur sampai di Surabaya karena kebetulan dia dan teman – temannya sedang nongkrong disana. Panggil saja dia ini Om Dod, Dodik Dary Awan, haha.
Malam semakin larut, Pur belum juga memastikan kedatangannya di Surabaya, aku, om Moralez, dan om Davinci hanya bisa menunggu dan bertukar kabar melalui chatting Whatsapp di hape kami masing-masing. Setidaknya inilah cara kami agar lebih update Huuhhhfff….
Hingga pukul lewat tengah malam aq masih di kebun bibit bersama Om dod dan teman-temannya yg setia itu. Ada Mas Furkon, Hilmi, dan dua temannya Lagi yg aku bLum hafal. Lebih tepatnya sih gag ingat siapa namanya. Hehheeheheh
Terakhir kabar dari Pur jam sebelasan tadi masih perjalanan, tapi hingga sekarang posisinya masih di Madura, ternyataaaaa dia dari Madura naik bus, bukannya naik motor,, huaaa….. mana ada bus dari madura ke surabaya tengah malam?? 
Tiba – tiba chatt Om Moralez masuk, dia bilang dia tidak akan jadi berangkat kalau Pur sampai di Surabaya esok pagi.
“Degg!!” pikiranku mulai kacau, rancu dan sesak.
Ya Alloh,,, taukah dia kalimat ini yang benar-benar tak ingin ku dengar, apalagi ku baca?  :’(
Akankah perjalananku tadi akan jadi sia –sia?
Bagaimana dengan ijin yang dengan susah payah ku minta dari bapakku?
Bagaimana dengan pengajuan Libur kerja yang sudah ku undur-undur dan berhasil menjadi Libur panjang?
Ohh rasanya ingin kuteriakan “Aku Harus Berangkat!!” dan apapun yang akan menghadang, pasty bisa ku lawan! Aq yakin dan percaya!
Om Dod dan teman-temannya pun berusaha menghibur dan menenangkanku. -_-
Karena sudah Lewat tengah malam, akhirnya omdod mengajakku untuk istirahat dulu di rumahnya. Awalnya aku tidak mau, tapi karena teman-temannya pun ikut dengan kami, akhirnya aq menurut juga, lumayan agar tubuhku ini tidak kecapekkan, mengingat sebentar lagi aku akan melakukan perjalanan lebih jauh dan panjang, tentunya harus dengan kondisi tubuh yg fit.
Selasa, 29 Juli 2014
Alhamdulillah… Sekitar pukul 02.22 Pur memberi kabar kalau sebentar lagi dia akan sampai di Surabaya. Segera aku bergegas minta toLong untuk diantar ke JMP menemui om Moralez dan Pur. Karena Omdod sudah tidur, akhirnya aku diantar oleh Hilmi dan seorang temannya ke JMP.
Dan kurang lebih pukul 03.15 WIB aku, Pur, dan Om Moralez meluncur menuju Pasuruan untuk menjemput Om Davinci.
Subuh menjelang, kami bertiga sampai di Rumah Om davi, daerah Gempol, Pasuruan. Disana kami disambut baik oleh keluarga Om davi, masih ingat sama senyum permata kecil Kakaknya om Davi, Aditya namanya.  :*  Kamipun sempat sarapan disana dan membawa sedikit ikan asin utk bekal. Hihihihihi….
Hingga sekitar pukul 06.00 WIB akhirnya…….. Perjalanan Panjang itupun dimulaiii………..
And, it’s time to beginning from Km 40733.
Bismillah…

Senin, 06 Oktober 2014

Mencintaimu adalah mimpi paling menyakitkan

Ya Robbi,, jangan biarkan aku jatuh cinta  pada sang bintang penghias langit, pada tatapan sinar mata itu,, yang melumpuhkan keteguhan rasa dalam nurani.
Memberi gejolak bathin yang takut untuk memimpikanmu lebih dalam dan mendalam lagi..
Mengapa harus Kau yang kupilih? mengapa harus Kau yang memberi cambuk pada hasrat ini?
Tak mungkin ku beranikan diri untuk memperdalam rasa yang lahir dalam sempitnya alur hidupku..
Mencintaimu adalah mimpi paling menyakitkan yang sedang q nikmati..

Rabu, 12 Maret 2014

Mengenal Olah Raga Panjat Tebing "Rock Climbing"





I.     SEJARAH PANJAT TEBING
Aktivitas panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang  burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.
Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 dinegara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi, terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandartkan.
Di Indonesia olahraga panjat tebing sendiri telah terbentuk sejak tahun 1988 yang memiliki organisasi yang pada saat itu bernama FPGTI (Federasi Panjat Gunung Dan Panjat Tebing Indonesia) yang kemudian berganti nama dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) sampai sekarang ini.
II.   DEFINISI
Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o  dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.
Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan
Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport).


II.           SISTEM PEMANJATAN
System pemanjatan dibagi menjadi dua :
* Himalayan system
Pemanjatan system Himalayan ini adalah pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi supaya hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus berlangsung tali transport ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team pemanjat juga sebagai jlur suplai peralatan ataupun yang lainnya

* Alpen system
Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang tidak akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini benar-benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung dalam pemanjatan tersubut harus dibawa pada saat itu juga.
Dilihat dari bentuk penggunaan peralatan panjat tebing terbagi menjadi 2 kelompok besar
* Artificial climbing :
Merupakan pemanjatan yang mana didalam pergerakannya sepenuhnya didukung oleh alat dan pemanjat tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan alat tersebut. Peralatan selain sebagai pengaman juga sebagai tumpuan untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan tersebut. Perlu diingat bahwasannya untuk dapat bergerak cepat dan aman dalam melakukan pemanjatan bukan disebabkan karena adanya peralatan yang super modern melainkan lebih diutamakan pada penggunaan teknik yang baik.
* Free climbing :
Adalah pemenajatan yang mengunakan alat hanya semata-mata untuk menambah ketinggian dan alat berfungsi sebagai pengaman saja tetapi tidak mempengaruhi  gerak dari pemanjat. Walaupun dalam pemanjatan tipe ini pemanjat diamankan oleh seorang belayer namun pengaman yang baik adalah diri sendiri.
Sednangkan untuk pengembangan dari jenis pemanjatan free climbing itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu :
- Top rope        :  pemanjatan dimana tali pemanjatan sudah terpasang sebelumnya
- Solo               : pemanjatan yang dilakukan seorang diri dengan merangkap fungsi sebagai Leade, Cleaner dan Belayer.
Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :
a.   Solo artificial climbing
b.   Solo free climbing
III.   TEKNIK DASAR PANJAT TEBING
Seorang pemanjat harus bisa memahami tebing yang akan dipanjat, bagaimana kontur tebing tersebut, apa saja peralatan yang nantinya akan dipergunakan, dan kalau bisa tahu secara detail bagaimana bentuk pegangan dan celah-celah yang ada pada tebing tersebut  yang paling utama pemanjat harus  bisa menentukan jalur pemanjatan, cara pemasangan dan penggunaan peralatan yang benar, hal itu akan menjadi safety standart prosedur dalam pemanjatan sehingga menjadi support tambahan bagi kesuksesan dalam melakukan pemanjatan.
Teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :
a.     Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan.
b.   Friction / Slab Climbing
Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu.
c.   Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak.
Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut ;
a.   Jamming
Teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau tangan dapat dimasukkan / diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak.
b.   Chimneying
Teknik memanjat celah vertical yang cukup besar. Badan masuk diantara celah dan punggung menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula dan membantu mendorong serta membantu menahan berat badan.
c.   Bridging
Teknik memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang kaki sebagai tumpuan dibantu juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.
d.   Lay back
Teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menempatkan kedua kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik silih berganti.
e.   Hand traverse
Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertukal sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata. 
f.   Mantelself
Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun cukup besar untuk diandalkan untuk tempat brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk menarik berat badan dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengngkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.
Sebagaimana panjat tebing ialah memanfaatkan cacat batuan untuk menambah ketinggian sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil juga dalam kemampuan berfikir yang tepat dalam bertindak dengan keadaan yang terbatas untuk membuat keputusan menyiasati dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.
V.   PROSEDUR PEMANJATAN
Tahapan-tahapan dalam pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkh sebagai berikut :
a.   mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dicapai.
b.   Menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan
c.   Untuk Leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil /
memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas dari Leader sendiri adalah membuat lintasan yang akan dilaluinya dan pemanjat berikutnya.
d.   Untuk Belayer, memasang ancor dan merapikan alat-alat. Tugasnya adalah membantu Leader baik dengan aba-aba maupun dengan tali yang dipakai Leader, Belayer juga bertugas mengamankan Belayer dari resiko jatuh atau yang lainnya, dengan langkah awal yaitu meneliti penganman yang dipakai Leader.
e. Bila belayer dan Leader telah siap melakukan pemanjatan, segera memberi aba-aba  pemanjatan
f.  Bila Leader sampai ketinggian 1 pitch (tali habis) ian harus memasang ancor.
g. Leader yang sudah memasang ancor diatas, selanjutnya berfungsi sebagai Belayer untuk mengamankan pemenjat berikutnya.
VI.   PERALATAN PANJAT TEBING
Adapun jenis-jenis peralatan yang biasa digunakan untuk panjat tebing adalah :
- Tali (Karn Mantel)            - Webbing              - Carabiner screw dan non screw
- Piton (pasak tebing)          - Ascender (alat untuk naik pada tali)
- Descender (alat untuk turun pada tali)         - Eterier (tangga tali)
- Chock friend                      - Harness               - Hamer
- Hand drill                            - Magnesium        - Sepatu dan helm
- Chock stopper                   - Chock hexentrix
VII.   SIMPUL-SIMPUL
Simpul-simpul dasar yang biasa digunakan pada panjat tebing adalah sebagai berikut :
- Simpul delapan (figure of eight knot)           - Simpul delapan ganda (double lub figure of eight knot)
- Simpul nelayan (fisherman knot)                  - Simpul perusik                   - Simpul pangkal (eliver hitch)
- Simpul pita                                                         - Simpul bowline                  - Simpul jangkar
- Simpul belay (Italian hitch)                            - Simpul kupu-kupu

CARMANTEL
Para pecinta alam atau pendaki mungkin selalu bermain dengan hal yang extrim. Dan mungkin tidak jauh juga dengan sebuah benda atau barang yang berbentuk tali. Maka dari itu para pendaki tidaklah menggunakan sembarang tali. Carmantel adalah solusinya. Carmantel adalah sebuah tali yang  lentur dan cukup kuat untuk membawa barang atau benda seberat 75 kg atau lebih cukup untuk membawa tubuh kita yang umumnya berukuran 10.5mm 50m. Bisa digunakan untuk banyak hal seperti wall climbing, repling, prusiking, penyebrangan kering, flying fox, dsb.

HARNES
Harnes adalah sebuah peralatan yang digunakan panjat tebing dalam jenis tertentu. Kegiatan lain yang membutuhkan penggunaan tali untuk menyediakan akses keselamatan (misalnya akses tali industri, bekerja di ketinggian, dsb). Kegunaan harnes adalah untuk mengamankan seseorang dari ketinggian yang telah terikat oleh seutas tali atau titik ancor. Harnes ada yang bertype full body harnes dan seat harnes. Full body harnes adalah bentuk harnes yang dihubungkan pada seluruh badan. Seat harnes adalah bentuk harnes seperti celana guna untuk duduk saat ditarik ke atas. Umumnya untuk menolong korban atau di waktu memasang point wall. Sehingga lebih mudah dan nyaman seperti gambar berikut.

CARABINER SCREW



Carabiner atau Karabiner adalah loop logam dengan gerbang. Bagian loop sebaliknya gerbang disebut sebagai tulang belakang. Hal ini dapat dengan cepat dan revesibel terhubung komponen dalam sistem keselamatan-kritis. Carabiner banyak bentuknya. Dan dapat digunakan dalam pendakian atau kegiatan lain yang membutuhkan keselamatan.




FIGURE 8

Alat ini dikatakan "eight" (delapan) dikarenakan bentuk umunya. Biasanya, Figure 8 umumnya digunakan saat repling dan membiley. Figure 8 terbuat dari partikel baja shingga sangatnlah kuat untuk menahan beban berat. Tapi sebagai catatan bahwa alat ini tidak bisa kita ketahuai secara langsung retak atau tidaknya. Jadi jangan sampai alat ini jatuh sampai berbunyi "klethik","krek","krik". Bisa dikatakan jika alat-alat ini adalah sebagian dari nyawa kita. Berikut contoh penggunaanya. 

 

ASCENDER
Ascender adalah sebuah alat mekanis yang digunakan untuk naik pada tali. Satu alat terbut adalah Jumar, nama terbaik setelah pabrik SWISS yang mengambangkan alat pertama untuk dijual pada tahun 1958. Nama perangkat ini juga mengarah pada jumaring istilah untuk proses menggunakan alat tersebut. Istilah lain untuk proses ini meliputi naik, prusiking dan jugging. Sebelum alat ini muncul, umumnya menggunakan tali prusik. Hanya saja alat ini lebih sulit penggunaanya dibanding Ascender. Berikut penggunaan Ascender.

SEPATU PANJAT

Keutamaan sepatu panjat tebing adalah pada keampuhan karet solnya untuk mencengkram tebing. Kelenturan sol mengikuti bentuk permukaan tebing yang tidak beraruran sehingga menghasilkan friksi dan membuat rute-rute panjat yang sulit menjadi biasa-biasa saja.
WEBBING

Webbing adalah kain tenun yang kuat seperti strip atau tabung dari berbagai lebar dan serat sering digunakan sebagai pengganti tali. Nama webbing berasal dari bahan anyaman kedap sering digunakan dalam konstruksi yang seperti jaring. Webbing ini adalah komponen serbaguna yang digunakan dalam pendakian, slacklining, manufaktur furnitur, keselamatan mobil, balap mobil, terjun payung, pakaian militer dan banyak bidang lain. Webbing dapat dijadikan sebagai harnes, anchor, pengaman, dlsb.